• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Angkat Besi. Show all posts
Showing posts with label Angkat Besi. Show all posts

Ni Nengah Widiasih Atlet Powerlifting Paralympic

Biografi Profil Biodata Ni Nengah Widiasih Atlet Powerlifting ParalympicNi Nengah Widiasih (lahir 12 Desember 1992) adalah powerlifter Indonesia. Dia berkompetisi di Paralimpiade Musim Panas 2012, Paralimpiade Musim Panas 2016, dan Paralimpiade Musim Panas 2020 di Tokyo Jepang. Widiasih lahir dan besar di Karangasem, Bali. Dia kehilangan penggunaan kakinya pada usia empat tahun dan mulai menggunakan kursi roda. Saat duduk di kelas enam, ia mulai tinggal di asrama yang dikelola oleh Yayasan Pembinaan Anak Cacat. Pengeluaran sehari-harinya ditanggung oleh yayasan, dan mulai sekolah menengah, pendidikannya dibiayai melalui beasiswa. Pada 2012 dia berada di tahun kedua sekolah menengah atas.

Atas saran kakaknya, sesama atlet angkat besi I Gede Suantaka, Widiasih ikut angkat besi. Dia mulai berlatih empat sampai lima kali seminggu. Pada tahun 2008, ia memenangkan medali perunggu di ParaGames ASEAN di Nakhon Ratchasima, sedangkan tahun berikutnya ia menerima medali perak di Olimpiade di Kuala Lumpur. Ia juga meraih medali pada kompetisi tingkat nasional di Surakarta dan Bali. Dia berkompetisi di kelas 40 kilogram.

Widiasih berkompetisi di ASEAN ParaGames 2011, yang diadakan di Surakarta pada bulan Desember, setelah kelasnya hampir dipotong oleh wasit sebagai "tidak sah". Dia membuat rekor untuk kelas 40 kilogram mengangkat 87 kilogram, rekor sebelumnya adalah 85 kilogram. Upaya ini juga membuatnya mendapatkan medali emas. Untuk cabang olahraga ia diasuh oleh Agus Sugiharto. Pada bulan Februari 2012 ia memenangkan medali perunggu di Malaysia Open Powerlifting Championship di Kuala Lumpur.

Widiasih masuk dalam daftar enam anggota untuk bersaing di Paralimpiade Musim Panas 2012 di London. Dia adalah satu-satunya dari Indonesia yang berkompetisi dalam powerlifting yang berkompetisi di kelas 40 kilogram. Ni Nengah Widiasih mengikuti ajang olahraga Paralympic Games Tokyo 2020. Cabang olahraga yang diikuti oleh Ni Nengah Widiasih di Paralympic Games Tokyo 2020 adalah powerlifting atau angkat besi. Selain Ni Nengah Widiasih, ada 22 atlet Indonesia lainnya yang akan ikut di Paralympic Games Tokyo 2020 dimulai pada 24 Agustus 2021 hingga 5 September 2021.

Atlet powerlifting Indonesia, Ni Nengah Widiasih, bertekad mengulang prestasi lima tahun lalu dengan mengibarkan bendera Merah Putih di Paralimpiade Tokyo 2020. National Paralympic Committee (NPC) Indonesia menargetkan Ni Nengah meraih medali perunggu di Paralimpiade Tokyo 2020. Namun, ia bertekad untuk bisa memberikan lebih dari yang telah ditargetkan.

Profil Laurel Hubbard Atlet Transgender Olimpiade

Biografi Profil Laurel Hubbard Atlet Transgender OlimpiadeLaurel Hubbard (lahir 9 Februari 1978) adalah atlet angkat besi Selandia Baru. Terpilih untuk berkompetisi di Olimpiade Musim Panas 2020, dia adalah wanita transgender pertama yang berkompetisi di Olimpiade. Hubbard berada di peringkat ketujuh di divisi +87 kg wanita IWF. The Komite Olimpiade Internasional membiarkan Weightlifting Federation International menetapkan persyaratan bagi para atlet transgender untuk bersaing di Olimpiade.

Hubbard memenuhi semua persyaratan dan pada 21 Juni 2021, Komite Olimpiade Selandia Baru menegaskan bahwa Hubbard telah dipilih untuk tim Olimpiade Selandia Baru untuk bersaing dalam kategori +87 kilogram putri, menjadi atlet angkat besi tertua yang lolos untuk permainan. Keputusan ini mengakibatkan Hubbard menjadi atlet transgender terbuka pertama yang dipilih untuk bersaing dalam angkat besi di Olimpiade. Atlet transgender telah diizinkan untuk bersaing di Olimpiade sejak 2004, dengan kriteria saat ini berlaku sejak 2015.

Keputusan tersebut menuai kritik terkait kaum transgender dalam olahraga dan kekhawatiran tentang keuntungan biologis. Direktur Medis dan Ilmiah IOC Richard Budgett berkomentar bahwa "keuntungan sisa setelah melalui pubertas laki-laki" harus ditimbang terhadap "semua kerugian lain melalui transisi", dan menganjurkan untuk penelitian lebih lanjut. Atlet angkat besi Anna Van Bellinghen dan Tracey Lambrechs mengkritik pemilihan Hubbard, dengan Van Bellinghen menyatakan bahwa situasinya "seperti lelucon yang buruk". 

Itu juga ditentang oleh kelompok advokasi Fair Play for Women. Charisma Amoe-Tarrant , yang memenuhi syarat dalam kategori yang sama, mendukung partisipasi Hubbards. Ada ungkapan dukungan publik dari Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern , dan menteri olahraga Grant Robertson. Pada 2 Agustus 2021, Hubbard berkompetisi di +87kg Putri , menempati posisi terakhir dengan tiga angkatan merebut yang gagal .

Profil Nurul Akmal - Atlet Angkat Besi Indonesia

Biografi Profil Nurul Akmal - Atlet Angkat Besi IndonesiaNurul Akmal yang lahir di Tanah Luas, Aceh Utara, 12 Februari 1993; umur 28 tahun adalah seorang atlet angkat besi berkebangsaan Indonesia. Pada 2017, ia memenangkan medali perak dalam lomba +90 kg putri di Pesta Olahraga Solidaritas Islam 2017 yang diadakan di ibukota Azerbaijan yaitu di Baku, Azerbaijan.

Pada 2017, ia meraih peringkat ke-6 dalam lomba +90 kg putri di Universiade Musim Panas 2017 yang diadakan di Taipei, Taiwan. Pada tahun berikutnya, ia mewakili Indonesia di Pesta Olahraga Asia 2018 yang diadakan di Jakarta, Indonesia dalam lomba +75 kg putri dimana ia meraih peringkat ke-6. Pada 2019, ia memenangkan medali perunggu dalam lomba +87 kg putri di Piala Qatar Internasional ke-6 yang diadakan di Doha, Qatar.

Lifter putri asal Aceh, Nurul Akmal, akan membawa bendera Indonesia pada pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 di National Stadium, Jumat (23/4/2021). Nurul menjadi kejutan di cabang angkat besi Olimpiade Tokyo. Pasalnya, dia masih berada di posisi ke-14 dunia hingga akhir tahun 2020. Namun, Nurul sukses menembus enam besar setelah mengikuti beberapa turnamen kualifikasi pada tahun ini. Turun di kelas berat +87kg, Nurul mengikuti turnamen kualifikasi Olimpiade 2020 yang digelar sejak 2018. 

Vakum dari berbagai kejuaraan internasional sepanjang tahun 2020 karena pandemi COVID-19, Nurul baru tampil lagi di Asian Championships di Tashkent, Uzbekistan, April 2021. Ajang ini sekaligus menjadi turnamen terakhir yang diikutinya sebelum ke Tokyo. Nurul Akmal mencatatkan total angkatan 251kg, dengan snatch 111kg dan clean and jerk 140kg. Merebut tiket Olimpiade Tokyo 2020 merupakan puncak karier Nurul. Pasalnya, ia meniti kariernya mulai dari kompetisi tingkat daerah, seperti Pekan Olahraga Aceh (Pra-PORA), Kejuaraan Nasional, dan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Profil Rahmat Erwin Abdullah - Atlet Angkat Besi

Biografi Profil Atlet Angkat Besi Rahmat Erwin AbdullahRahmat Erwin Abdullah lahir di Makassar, 13 Oktober 2000; umur 20 tahun adalah atlet angkat besi (lifter) Indonesia. Ia memulai debutnya di Pesta Olahraga Asia Tenggara 2019 di Filipina. Pada debut pertamanya tersebut, ia mampu meraih medali emas untuk Indonesia pada kelas 73 kg putra.

Atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah berhasil menambah perolehan medali untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Turun di kelas 73 kg putra, Rahmat Erwin menyabet medali perunggu dalam laga yang berlangsung di Tokyo International Forum, Rabu (28/7/2021). Rahmat Erwin meraih perunggu setelah menempati urutan ketiga dengan total angkatan 342 kilogram. Rinciannya adalah Rahmat berhasil meraih angkatan snatch terbaik dengan beban 152 kg dan 190 kg di angkatan clean & jerk.

Di angkatan snatch, Rahmat berhasil mengangkat dalam tiga kesempatan pada beban 142 kg, 147 kg, dan 152 kg. Sementara pada angkatan clean & jerk, Rahmat sukses mengangkat beban 180 kg di percobaan pertama dan 190 kg di usaha ketiga. Adapun medali emas diraih oleh lifer China Shi Zhiyong dengan total angkatan 354 kg. Kemudian, medali perunggu jatuh ke tangan atlet angkat besi Venezuela  Julio Ruben Mayora Pernia dengan total angkatan 342 kg.

Dengan keberhasilan Rahmat Erwin Abdullah ini, Indonesia sekarang sudah mengantongi tiga medali, yakni satu perak dan dua perunggu. Dua medali sebelumnya juga diraih Indonesia dari cabang olahraga angkat besi, yakni melalui Eko Yuli Irawan dan Windy Cantika Aisah. Eko Yuli menyumbang medali perak di kelas 61 kg putra dengan total angkatan 302 kg (137 snatch dan 165 kg clean & jerk). Sementara itu, Windy Cantika Aisah meraih medali perunggu di kelas 49 kg dengan total angkatan 210 kg, yang terdiri dari 94 kg snatch dan 116 kg clean & jerk.

Hou Zhihui - Lifter China Peraih Medali Emas

Biografi Hou Zhihui - Lifter China Peraih Medali EmasHou Zhihui adalah atlet angkat besi Tiongkok, juara Olimpiade, juara dunia, dan juara Asia dua kali yang berkompetisi dalam kategori 49 kg putri. Pada 2021, ia telah menetapkan sebelas rekor dunia senior sepanjang karirnya. Lifter China sekaligus peraih medali emas angkat besi kelas 49kg di Olimpiade Tokyo 2020, Hou Zhihui dalam pemeriksaan terkait dugaan doping. 

Hal itu membuat lifter Indonesia, Windy Cantika Aisah berpeluang bawa pulang perak. Seluruh atlet peraih medali diwajibkan untuk melakukan pengambilan sampel melalui urine untuk dilakukan tes pengecekkan doping. Diberitakan kantor berita ANI yang mengutip sumber menyebut ada penemuan dalam sampel Zhihui.

"Yang berita sekarang itu hasil dari sampel A dan harus dilanjutkan ke pemeriksaan sampel B. Kalau di sampel A dibuka ada indikasi, sampel B diperiksa lagi. Kalau benar sama hasilnya positif [doping] nanti akan ada pengumuman resmi panitia penyelenggara Olimpiade 2-3 hari kemudian," kata Dirja Wiharja, pelatih angkat besi Indonesia yang menemani Windy di Olimpiade Tokyo kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/7).

Di Olimpiade Tokyo, Zhihui telah mencetak rekor dunia 210kg di kelas 49kg. Ia mengalahkan wakil India Mirabai Chanu dengan total angkatan 202kg dan berhak atas medali emas. Sedangkan medali perunggu diraih lifter Indonesia Windy Cantika yang mencatatkan total angkatan 194 kg dari 84 kg snatch dan 110 kg clean and jerk. Windy Cantika juga menjadi penyumbang medali pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo.

Jika hasil resmi menyatakan Zhizui terbukti positif doping, medali emas lifter 24 tahun itu akan dicabut. Mirabai Chanu akan naik sebagai peraih medali emas disusul Windy Cantika untuk medali perak dan Wan Ling Fang dari Taiwan berhak atas perunggu Olimpiade Tokyo. Pasalnya, dalam aturan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) disebutkan dengan jelas bahwa atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade dilarang menggunakan zat peningkat kinerja, yang mencakup berbagai jenis stimulan.

Setiap atlet yang sampelnya terdeteksi dengan zat terlarang gagal dalam tes doping. Jika terdeteksi sebelum dimulainya pertandingan, dia didiskualifikasi sebagai peserta. Jika sampel ditemukan positif untuk zat terlarang setelah laga, atlet akan ditarik medalinya. Komite Olimpiade Indonesia (NOC) juga bakal mengawal untuk memastikan persoalan doping yang diduga terjadi di cabang angkat besi 49 kg Olimpiade Tokyo 2020.

Hidilyn Diaz - Atlet Filipina Peraih Emas Olimpiade

Biografi Hidilyn Diaz - Atlet Filipina Peraih Emas Olimpiade Tokyo 2020Hidilyn Francisco Diaz yang lahir 20 Februari 1991 umur 30 tahun adalah atlet angkat besi sekaligus pramugari yang berasal dari Filipina. Dia juga merupakan wanita pertama Filipina yang memenangkan medali pada Olimpiade. Atlet angkat besi Filipina, Hidilyn Diaz menjadi peraih medali emas Olimpiade pertama di negaranya setelah memenangi kategori 55 kg putri Olimpiade Tokyo, Senin (26/7/2021). Dalam Olimpiade keempat dan mungkin terakhir, atlet berusia 30 tahun itu mencatatkan total angkatan 224 kg, yang juga menjadi rekor Olimpiade.

Hidilyn Diaz adalah anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan Eduardo dan Emelita Diaz. Ayahnya adalah seorang pengemudi sepeda roda tiga sebelum menjadi petani dan nelayan. Dia tumbuh ingin menjadi bankir dan mencoba beberapa olahraga, seperti bola basket dan bola voli. Sepupunya, Allen Jayfrus Diaz, mengajarinya dasar-dasar angkat besi.

Dia menghadiri Universidad de Zamboanga di mana dia mengejar gelar sarjana dalam ilmu komputer . Namun, Diaz berhenti kuliah sebagai mahasiswa reguler tahun ketiga karena dia menemukan gelarnya tidak cocok untuknya. Dia juga mengklaim bahwa itu mengganggu pelatihannya. Setelah sukses di Olimpiade 2016, Diaz memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan berniat mengejar gelar terkait olahraga di Manila.

Pada Januari 2017, Diaz menerima beasiswa untuk belajar manajemen bisnis di De La Salle-College of Saint Benilde. Pada tahun 2018, Diaz mengambil cuti untuk sekolahnya karena dia fokus pada Persiapan Olimpiade setelah memenangkan Asian Games. Pada tahun 2020, Diaz telah mendaftar kembali ke kelas online sejak Olimpiade Musim Panas ditunda hingga Juli 2021. 

Filipina mendapatkan medali emas pertama sejak keikutsertaan mereka di Olimpiade pada 1924. Emas pertama Filipina di ajang Olimpiade disumbangkan oleh lifter, Hidilyn Diaz. Diaz menjadi yang terbaik pada cabang angkat besi nomor 55kg putri dalam pertandingan yang digelar di Tokyo International Forum, Selasa (26/7/2021). Diaz mencatatkan total angkatan 224 kg dari 97kg di angkatan snatch dan 127kg di clean & jerk. Torehan ini juga menjadi rekor baru di Olimpiade.

Diaz mengungguli catatan lifter China, Liao Qiuyun yang membuat total angkatan 223kg (97 kg di snatch dan 126 di clean & jerk). Liao Qiuyun harus rela dengan raihan perak. Sementara, perunggu menjadi milik atlet Kazakhstan, Zulfiya Chinshanlo yang membuat total angkatan 213kg (90kg di snatch dan 123 di clean & jerk). Diaz tampak begitu terharu dengan capaiannya ini. Wanita 30 tahun menangis di podium saat menyanyikan lagu kebangsaan Filipina usai meraih emas. 

Capaian ini membuat Diaz saat ini menjadi satu-satunya atlet Filipina yang mampu meraih dua medali di Olimpiade. Sebelumnya, ia mampu meraih perak di Olimpiade 2016. Tambahan emas dari Diaz membuat Filipina total telah mengumpulkan 11 medali sejak pertama kali ikut serta di Olimpiade pada 1924. Rinciannya adalah satu medali emas, tiga perak dan tujuh perunggu. Untuk di Olimpiade Tokyo 2020 sendiri, Filipina saat ini mengumpulkan satu emas dan satu perunggu. Filipina menempati posisi ke-16 dalam klasemen medali.

Profil Deni Atlet Angkat Besi Olimpiade Tokyo 2020

Biografi Profil Deni Atlet Angkat Besi Olimpiade Tokyo 2020Deni yang lahir 26 Juli 1989; umur 31 tahun adalah atlet angkat besi yang berasal dari Indonesia. Dia berada di peringkat ke-12 pada Olimpiade Musim Panas 2012 dan Olimpiade Musim Panas 2016. Ia juga telah memenangkan beberapa medali emas, termasuk pada Pesta Olahraga Asia Tenggara 2019.

Atlet angkat besi Indonesia, Deni, belum beruntung ketika turun di kelas 67 Kg Olimpiade Tokyo 2020, Minggu (25/7/2021) sore WIB. Secara keseluruhan, total angkatan snatch dan clean & jerk Deni adalah 301 Kg. Pada angkatan snatch, Dani mematok beban awal 135 Kg. 

Deni yang kini berusia 31 tahun  belum berhasil pada angkatan snatch pertamanya. Pada percobaan kedua, Deni berhasil mengangkat beban awalnya, yakni 135 Kg. Pada kesempatan ketiga, Deni menaikkan beban angkatannya menjadi 140 Kg. Namun sayang, Deni tak berhasil pada angkatan snatch ketiganya.

Berlanjut ke angkatan clean & jerk, Deni mematok beban awal 166 Kg. Beban tersebut berhasil diangkat Deni pada kesempatan pertamanya. Deni kemudian menaikkan beban angkatan clean & jerk-nya menjadi 171 Kg. Dalam dua percobaan, Deni belum berhasil mengangkat beban bersebut. Dengan total angkatan snatch dan clean & jerk 301 Kg, Deni gagal meraih medali pada partipisiasi ketiganya di Olimpiade kali ini. Sebelumnya, cabor angkat besi sudah menyumbang dua medali untuk Indonesia. 

Medali pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 dipersembahkan oleh Windi Cantika Aisah. Lifter berusia 19 tahun itu sukses meraih medali perunggu ketika turun di kelas 49 Kg putri, Sabtu (24/7/2021) dengan total angkatan 194 Kg. Berikutnya, Eko Yuli Irawan meraih medali perak setelah menempati peringkat kedua di kelas 61 Kg dengan total angkatan 302 Kg. Rincian dari total angkatan terbaik Eko Yuli Irawan adalah 137 Kg snatch dan 165 Kg clean & jerk.

Indonesia masih berpeluang menambah perolehan medali dari cabor angkat besi. Sebab, masih ada dua lifter Indonesia yang belum tampil. Mereka adalah Erwin Rahmat Abdullah dan Nurul Akmal. Erwin Rahmat Abdullah dijadwalkan turun di kelas 73 Kg putra pada Rabu (28/7/2021). Di sisi lain, Nurul Akmal akan turun di kelas +87 Kg putri pada Senin (2/8/2021).

Profil Eko Yuli Irawan Atlet Angkat Besi Olimpiade

Biografi Eko Yuli Irawan - Atlet Angkat Besi Peraih medali emas pertama indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 jepangEko Yuli Irawan yang lahir di Kota Metro, Lampung, Indonesia, 24 Juli 1989 berumur 31 tahun adalah atlet angkat besi Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020 dengan total angkatan 302 kg. Pada perhelatan SEA Games 2019 di Filipina medali emas Merah Putih disumbangkan oleh lifter Eko Yuli Irawan di kelas 61 kg putra. Eko Yuli Irawan meraih medali emas di Asian Games 2018 pada kelas 62 kg putra di Jakarta. Atlet ini mencatatkan angkat snat 141 kilogram dan 170 kilogram clean and jek dengan total angkatan 311 kilogram.

Di Olimpiade Beijing 2008 Eko meraih medali perunggu. Sebelumnya di kejuaraan angkat besi dunia yunior di Praha, Republik Ceko tahun 2007, Eko meraih emas dan mendapatkan penghargaan sebagai the best lifter pada turnamen tersebut. Pada Olimpiade London 2012, Eko untuk kedua kalinya berturut-turut menjadi penyumbang medali pertama Indonesia dengan meraih medali perunggu di kelas 62 kg dan menduduki peringkat ketiga dengan total 317 kg. 

Eko lahir di Lampung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya bernama Saman, seorang pengayuh becak, sedangkan ibunya, Wastiah adalah seorang penjual sayur. Takdir Eko menjadi atlet angkat besi (weightlifter atau lifter) berawal saat ia menyaksikan sekelompok orang berlatih angkat besi di sebuah klub di daerahnya sekitar tujuh tahun silam. Lama kelamaan Eko makin tertarik. Pelatih klub tersebut akhirnya mengajak Eko ikut berlatih. Berbekal izin dari orangtuanya, Eko pun mulai mengakrabkan diri dengan barbel. Eko mulai merintis prestasinya saat tampil sebagai lifter terbaik di Kejuaraan Dunia Yunior 2007, di mana saat itu ia meraih medali emas. Sejak itu ia melanjutkan kariernya dengan gemilang. 

Di Olimpiade Tokyo 2020 Jepang, Eko Yuli Irawan meraih medali perak bagi Indonesia. Dia berhasil mengangkat barbel pada angkatan pertama sebesar 137 kg dan pada angkatan kedua seberat 165 kg. Dengan hasil total 302 kg, Eko Yuli Irawan mampu menyumbang medali perak untuk Indonesia pada ajang Olimpiade Tokyo 2020 di Jepang tahun 2021 ini.

Rio Waida dan Nurul Akmal Atlet Pembawa Bendera

Biografi Rio Waida dan Nurul Akmal Atlet Pembawa Bendera Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020Rio Waida dan Nurul Akmal akan menjadi atlet yang ditugaskan untuk membawa bendera Indonesia pada parade kontingen negara peserta di Opening Ceremony Olimpiade Tokyo 2020. Rio Waida merupakan atlet surfing atau selancar putra Indonesia yang memiliki darah Jepang dari ibunya. Di sisi lain, Nurul Akmal adalah atlet putri angkat besi Indonesia yang nantinya akan berkompetisi di nomor +87 kg pada Olimpiade Tokyo 2020. Pada parade kontingen atau negara peserta Olimpiade Tokyo 2020, tidak semua atlet Indonesia akan hadir di Olympic National Stadium.

Rio Waida (和井田理央, Waida Rio , lahir 25 Januari 2000) adalah seorang peselancar profesional Indonesia. Ia memenangkan medali perak untuk Indonesia pada Pesta Olahraga Asia Tenggara di Filipina, sedangkan medali emas diraih oleh sesama peselancar Indonesia, Hairil Anwar. Lahir dari ayah Indonesia dan ibu Jepang, Waida tinggal di Jepang sampai ia berusia 5 tahun sebelum pindah ke Bali. Ia mulai pindah ke Indonesia ketika berusia lima tahun dan tinggal di Jimbaran, Bali. Pada Olimpiade Tokyo 2020, Waida mewakili Indonesia untuk tampil di pesta olahraga multicabang terbesar di dunia itu. Rio dinyatakan lolos kualifikasi Olimpiade oleh International Surfing Association (ISA), setelah merebut posisi runner up pada ajang ISA World Surfing Games 2019 di Miyazaki, Jepang.

Sementara itu, Nurul Akmal (lahir 12 Februari 1993; umur 28 tahun) adalah seorang atlet angkat besi Indonesia. Pada 2017, ia memenangkan medali perak dalam lomba +90 kg putri di Pesta Olahraga Solidaritas Islam 2017 yang diadakan di Baku, Azerbaijan. Pada 2017, ia meraih peringkat ke-6 dalam lomba +90 kg putri di Universiade Musim Panas 2017 yang diadakan di Taipei, Taiwan. Pada tahun berikutnya, ia mewakili Indonesia di Pesta Olahraga Asia 2018 yang diadakan di Jakarta, Indonesia dalam lomba +75 kg putri dimana ia meraih peringkat ke-6. Pada 2019, ia memenangkan medali perunggu dalam lomba +87 kg putri di Piala Qatar Internasional ke-6 yang diadakan di Doha, Qatar.

Windy Cantika Aisah - Atlet Angkat Besi Indonesia

Biografi Profil Biodata Windy Aisah - Wikipedia - Atlet Angkat Besi IndonesiaWindy Cantika Aisah yang lahir 11 Juni 2002 usia 17 tahun adalah atlet angkat besi Indonesia. Cantika meraih medali perunggu di Olimpiade Tokyo 2020 di Jepang. Windy mulai bertanding dalam Kejuaraan Asia Junior dan Remaja 2019 di Pyongyang, Korea Utara. Meski levelnya junior, turnamen itu tetap sangat penting buat mereka yang mengejar tiket Olimpiade Tokyo 2020 sebab event itu merupakan turnamen berkategori gold dan punya nilai poin tinggi. Windy Cantika Aisah terus mengejar kuota Olimpiade tersebut. Untuk level remaja, terlebih di Asia kans dia merebut medali sangat besar misalnya, saat di Kejuaraan Dunia Junior 2019 di Fiji pada Juni lalu. Cantika merebut tiga perak dan hanya kalah dari lifter Tiongkok Zhao Jinhong yang setahun lebih tua darinya.

Dilihat dari perkembangannya, catatan Cantika maju pesat. Sekarang dia sudah mampu mencatat angkatan total 181 kg. Capaian tersebut dibukukan saat terjun di Kejuaraan Dunia 2019 di Pattaya, Thailand, bulan lalu. Jadi, kalau targetnya mempertajam rekor, kans dia sangat besar. Namun, mengejar pesaing utamanya, Zhao Jinhong, masih sulit. Di Kejuaraan Dunia Junior, capaian mereka terbentang jauh. Terutama di angkatan clean and jerk. Di snatch, mereka sama-sama membukukan 81 kg. Nah, untuk clean and jerk, Zhao mampu mengangkat beban sampai 110 kg, sedangkan Cantika hanya 98 kg. Terpaut 12 kg. Terlebih, Cantika punya beberapa kendala selama persiapan. Salah satunya soal pendidikan. Selain itu, Cantika harus membagi tenaga di turnamen. Sebab, dia tampil di level junior maupun senior. Lawannya hanya terjun di junior. Sementara itu, pelatih Dirdja Wihardja mengatakan bahwa persaingan di level junior belum terlalu ketat. Dia optimistis para lifter junior bisa meraih yang terbaik.

Windy Cantika Aisah Atlet Angkat Besi Indonesia meraih medali emas di SEA Games 2019. Selain Windy ada juga sebelumnya Lisa Setiawati yang mempersembahkan Medali Perak dari Cabor Angkat Besi SEA Games 2019. Sementara itu atlet angkat besi putra Eko Yuli Irawan pun mendapatkan medali emas. Lifter Eko Yuli Irawan berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia usai juara pada nomor 61 kilogram putra SEA Games 2019 di RSMC Ninoy Aquino Stadion, Manila, Senin (2/12). Eko Yuli meraih medali emas setelah mencatat total angkatan 309 kilogram. Lifter berusia 30 tahun itu mencatat angkatan snatch 140 kilogram dan 169 kilogram di clean and jerk.